SkincarePanduan
Eksfoliasi Wajah: Fisik atau Kimia, Seberapa Sering, dan Urutannya
Eksfoliasi wajah adalah mengangkat sel kulit mati secara fisik atau kimia. Pelajari bedanya, seberapa sering, berapa menit, urutannya, dan batas aman BPOM.
Belum ditinjau tenaga kesehatan. Untuk keluhan kulit yang berat atau tidak membaik, periksakan ke dokter kulit. Cari dokter spesialis kulit (PERDOSKI) (tab baru)

Eksfoliasi adalah cara mengangkat sel kulit mati dari lapisan terluar kulit, baik secara fisik dengan scrub, spons, atau sikat, maupun secara kimia dengan asam seperti AHA, BHA, dan PHA. Untuk wajah, mulai dari cara yang paling lembut sekitar 1-2 kali seminggu di malam hari, lanjutkan dengan pelembap, lalu pakai sunscreen keesokan paginya.
Eksfoliasi adalah proses mengangkat sel kulit mati dari lapisan terluar kulit, baik secara fisik dengan scrub, spons, atau sikat, maupun secara kimia dengan asam seperti AHA dan BHA. Untuk wajah, mulailah dari cara paling lembut, sekitar 1-2 kali seminggu di malam hari, lalu tambah pelan-pelan hanya bila kulit tetap nyaman.
Banyak artikel menjawab "seberapa sering" dengan tabel angka pasti per jenis kulit. Kami memilih tidak membuat tabel seperti itu, karena sumber dermatologi sendiri tidak memberi angka baku. American Academy of Dermatology (AAD) hanya memberi satu prinsip: makin keras cara eksfoliasinya, makin jarang perlu dilakukan. Panduan ini membahas cara memilih metodenya, durasinya, urutannya di rutinitas, dan batas aman produk yang beredar di Indonesia.
Eksfoliasi wajah adalah apa, dan apakah semua orang butuh?
Kulit sebenarnya mengelupaskan sel matinya sendiri. Proses alami ini disebut deskuamasi, dan menurut Cleveland Clinic lajunya melambat seiring bertambahnya usia. Sel kulit mati yang menumpuk bisa membuat wajah tampak kusam, belang, dan ikut menyumbat pori. Mengangkatnya dari luar membantu proses pengelupasan itu dari luar.
Yang jarang dibahas: AAD menulis bahwa eksfoliasi tidak cocok untuk semua orang, dan bila dilakukan dengan cara yang salah, hasilnya bisa lebih merugikan daripada menguntungkan, misalnya kulit makin merah atau jerawat bertambah. Karena itu, menurut kami eksfoliasi adalah langkah tambahan, bukan bagian dari rutinitas dasar. Fondasinya tetap pembersih, pelembap, dan sunscreen, seperti yang kami bahas di panduan basic skincare untuk pemula.
Kapan eksfoliasi masuk akal? Biasanya saat kulit terasa kasar, tampak kusam, atau sering muncul komedo. AAD juga menyebut pengelupasan yang dilakukan dengan aman bisa membuat pori tampak kurang menonjol. Kalau kulitmu sedang nyaman tanpa keluhan, tidak ada kewajiban menambahkannya.
Eksfoliasi fisik vs kimia: apa bedanya?
AAD membagi eksfoliasi rumahan menjadi dua cara. Cara mekanis atau fisik memakai alat seperti sikat, pad, spons, atau scrub untuk menggosok sel kulit mati. Cara kimia memakai asam seperti alpha hydroxy acid (AHA) dan beta hydroxy acid (BHA) untuk melarutkan sel kulit mati.
| Eksfoliasi fisik | Eksfoliasi kimia | |
|---|---|---|
| Cara kerja | Menggosok sel kulit mati | Melarutkan ikatan antar sel kulit mati |
| Contoh | Scrub berbutir, spons konjac, sikat, waslap | AHA (glycolic, lactic acid), BHA (salicylic acid), PHA |
| Yang menentukan kekuatan | Kekasaran butiran dan tekanan tangan | Jenis asam, kadar, dan pH produk |
| Cara pakai umum | Digosok lembut lalu dibilas | Pembersih yang dibilas, atau toner/serum yang dibiarkan di kulit |
| Paling perlu hati-hati | Kulit sensitif, berjerawat, mudah bernoda gelap | Kulit sensitif, dan saat dipadukan dengan bahan aktif lain |
Eksfoliasi fisik: scrub, spons, dan sikat
Kekuatan eksfoliasi fisik sepenuhnya ada di tanganmu. Scrub yang sama bisa lembut di satu orang dan melukai di orang lain, tergantung seberapa keras ditekan. Itulah alasan kami lebih berhati-hati dengan cara ini.

Cleveland Clinic bahkan menyarankan menghindari scrub garam, scrub gula, produk berbahan arang, serta sikat atau alat khusus karena bisa mengiritasi, lalu menggantinya dengan eksfolian kimia berbahan glycolic acid beberapa kali seminggu. Ini relevan karena resep scrub gula atau kopi buatan sendiri masih sering beredar. Butiran gula dan kopi bentuknya tidak beraturan, dan tidak ada label yang memberi tahu seberapa kasarnya.
Eksfoliasi kimia: AHA, BHA, dan PHA
Menurut FDA, tingkat eksfoliasi produk AHA bergantung pada jenis dan kadar AHA, pH, serta bahan lain di dalamnya. Jadi "mengandung AHA" saja belum memberi tahu seberapa kuat produknya.
- AHA paling umum berupa glycolic acid dan lactic acid. Cleveland Clinic menjelaskan AHA larut dalam air dan umumnya bekerja di permukaan kulit; glycolic acid adalah AHA terkecil sehingga bisa menembus lebih dalam. Detailnya ada di halaman bahan AHA.
- BHA yang paling sering dipakai di kosmetik adalah salicylic acid. AAD menulis salicylic acid membuka pori yang tersumbat dan mengeksfoliasi kulit, jadi bahan ini sering dipilih untuk kulit berminyak dan berkomedo. Baca juga halaman salicylic acid.
- PHA, misalnya gluconolactone dan lactobionic acid, disebut sebagai generasi baru AHA yang memberi efek serupa tanpa rasa perih yang sering membatasi pemakaian AHA klasik. Pilihan ini menarik untuk kulit yang mudah perih, walau datanya lebih sedikit daripada AHA dan BHA.
Cara memilih eksfoliasi sesuai jenis kulit
AAD menegaskan metode eksfoliasi sebaiknya dipilih berdasarkan jenis kulit. Kalau belum yakin jenis kulitmu, coba kuis jenis kulit lebih dulu, lalu cocokkan dengan tabel ini.
| Jenis kulit | Saran AAD | Catatan redaksi |
|---|---|---|
| Kering | Waslap dan eksfolian kimia ringan | Pelembap langsung sesudahnya, jangan ditunda |
| Sensitif | Waslap dan eksfolian kimia ringan | Uji tempel dulu; PHA layak dipertimbangkan |
| Berjerawat | Waslap dan eksfolian kimia ringan | Halaman tips jerawat AAD justru menyarankan menghindari eksfolian; baca bagian "Kapan sebaiknya tidak eksfoliasi" |
| Berminyak dan tebal | Boleh eksfolian kimia lebih kuat atau eksfoliasi fisik | Tetap mulai dari frekuensi rendah |
| Kombinasi | Tidak ada saran khusus; AAD hanya menjelaskan kulit ini kering di sebagian area dan berminyak di area lain | Menurut kami, ikuti area yang paling sensitif, atau pakai eksfolian di area berminyak saja |
Kulit sawo matang dan noda gelap: lebih lembut lebih aman
Bagian ini paling sering terlewat, padahal penting untuk kebanyakan pembaca kita. AAD menyarankan menghindari eksfoliasi kimia maupun fisik yang kuat bila kulitmu gelap, atau bila sering muncul noda gelap setelah luka bakar, gigitan serangga, atau jerawat. Pada sebagian orang, terutama yang berkulit gelap, cara yang agresif justru bisa menambah pigmentasi.
DermNet mencatat hal serupa untuk peeling di klinik: kulit dengan fototipe Fitzpatrick IV sampai VI lebih berisiko mengalami perubahan warna kulit dan bekas luka menebal, sehingga peeling yang lebih ringan dipakai pada kulit yang lebih gelap. Jadi kalau kamu ingin memudarkan bekas jerawat kehitaman, menggosok lebih keras bukan jawabannya. Pilihan yang lebih aman kami bahas di cara menghilangkan bekas jerawat.
Seberapa sering eksfoliasi wajah sebaiknya dilakukan?
Jawaban paling jujur: mulai jarang, lalu biarkan reaksi kulitmu yang menentukan. Untuk glycolic acid, dokter residen dermatologi yang dikutip Cleveland Clinic menyarankan mulai sekali atau dua kali seminggu lalu naik bertahap sampai setiap malam bila kulit menoleransinya. Dokter yang sama, di artikel lain, menyebut eksfoliasi sebaiknya hanya beberapa kali seminggu, karena eksfoliasi berlebihan cepat mengeringkan kulit wajah.
Ada efek lanjutan yang sering bikin bingung. Menurut sumber yang sama, kulit yang kering akibat pengelupasan berlebihan memproduksi minyak lebih banyak, dan minyak itu ikut memicu komedo. Jadi orang yang menggosok atau memakai asam setiap hari demi melawan komedo bisa terjebak dalam lingkaran yang memperburuk keluhannya sendiri.
Perlu diakui, sumber tidak selalu seragam. Seorang estetisi yang dikutip Cleveland Clinic menyarankan eksfoliasi wajah "dalam bentuk tertentu" setiap hari. Kami mengikuti saran dokter yang lebih hati-hati, karena "bentuk tertentu" itu bisa saja sekadar mencuci muka dengan waslap, bukan scrub atau asam setiap malam.
Hitung semua produk yang mengeksfoliasi. Pembersih ber-AHA atau BHA, toner eksfoliasi, dan masker peeling semuanya terhitung eksfoliasi. Kalau kamu memakai pembersih salicylic acid setiap pagi lalu toner AHA dua malam seminggu, frekuensi eksfoliasimu sudah lebih dari dua kali seminggu.
Tanda kamu terlalu sering atau terlalu kuat: kulit memerah dan teriritasi (AAD), serta kering dan makin peka (Cleveland Clinic). Rasa perih saat memakai pelembap biasa juga sinyal untuk berhenti sementara. Kondisi ini dekat dengan lapisan pelindung kulit yang terganggu, yang kami bahas di artikel skin barrier rusak.
Cara eksfoliasi wajah dan berapa menit sebaiknya
Pertanyaan "eksfoliasi berapa menit" punya jawaban yang lebih pendek dari dugaan banyak orang. Untuk scrub atau eksfolian kimia yang dibilas, AAD menyarankan mengoleskannya dengan gerakan memutar kecil yang lembut selama sekitar 30 detik, lalu membilasnya dengan air suam-suam kuku, bukan air panas. Berikut langkah lengkapnya.
- Cek dulu produk lain yang kamu pakai. AAD mengingatkan retinoid resep dokter, retinol, dan benzoyl peroxide bisa membuat kulit lebih peka atau mengelupas, jadi eksfoliasi bersamaan bisa memperparah kulit kering atau memicu jerawat.
- Uji tempel produk baru. Saran AAD: oleskan di area kecil seperti lengan bagian dalam dua kali sehari selama 7 sampai 10 hari sebelum dipakai di wajah.
- Bersihkan wajah, kecuali eksfoliannya sendiri berbentuk pembersih.
- Aplikasikan dengan lembut. Scrub atau eksfolian bilas cukup sekitar 30 detik. Kalau memakai sikat atau spons, pakai sapuan pendek dan ringan.
- Untuk toner, serum, atau masker eksfoliasi, ikuti label. Produk yang dibiarkan di kulit tidak dibilas setelah 30 detik. FDA menyarankan mengikuti petunjuk pemakaian dan tidak melebihi frekuensi yang dianjurkan; untuk masker peeling, waktu di label adalah batas, bukan saran minimum.
- Pakai pelembap segera. AAD menyebut eksfoliasi bisa membuat kulit kering, jadi pelembap dioleskan langsung sesudahnya.
- Lewati eksfoliasi bila ada luka terbuka atau kulit sedang terbakar matahari.
Satu kebiasaan yang menurut kami paling berguna: catat hari kamu memakai eksfolian. Reaksi kulit sering baru terasa keesokan harinya, dan catatan sederhana membantu kamu tahu frekuensi mana yang masih nyaman.
Urutan eksfoliasi wajah dalam rutinitas skincare
Di mana eksfolian ditaruh? Cleveland Clinic menyarankan pembersih atau eksfolian (atau pembersih eksfoliasi) sebagai langkah pertama, bukan keduanya. Jadi kalau kamu memakai pembersih ber-AHA atau BHA, pembersih itulah eksfolianmu malam itu.
Bagaimana dengan toner atau serum eksfoliasi yang dibiarkan di kulit? Sumber yang sama menaruh perawatan jerawat berbahan salicylic acid di langkah kedua, setelah pembersih, lalu pelembap di langkah ketiga. AAD menambahkan bahwa pelembap dioleskan segera setelah eksfoliasi. Dari dua saran itu, urutan yang kami pakai: pembersih lembut tanpa asam, satu eksfolian yang dibiarkan di kulit, lalu pelembap. Jangan menumpuk pembersih eksfoliasi dan toner eksfoliasi di malam yang sama, karena itu sudah dua eksfolian.
Waktunya malam hari. Cleveland Clinic menulis glycolic acid sebaiknya dipakai malam karena, seperti retinol, bahan ini meningkatkan kepekaan kulit terhadap matahari. Seberapa besar? Dalam studi yang dirangkum FDA, setelah empat minggu memakai krim AHA, kepekaan kulit relawan terhadap kemerahan akibat UV naik 18 persen. Kabar baiknya, efek itu berbalik: seminggu setelah pemakaian dihentikan, tidak ada lagi perbedaan bermakna.
Artinya sunscreen bukan tambahan opsional di pagi setelah memakai asam eksfolian. FDA juga menyarankan perlindungan matahari bagi pengguna produk BHA. Pakai sunscreen broad spectrum SPF 30 atau lebih, dan cara memilihnya ada di panduan sunscreen yang bagus.
Untuk menyusun urutan lengkap dengan produkmu sendiri, pakai pembuat urutan skincare, atau baca urutan skincare malam per jenis kulit. Soal double cleansing, Cleveland Clinic menilai cara ini lebih banyak ruginya daripada manfaatnya dan cukup membersihkan wajah sekali. Kalau kamu tetap melakukannya, jangan pakai pembersih eksfoliasi di tahap mana pun pada malam kamu memakai toner atau serum eksfoliasi.
Bahan yang sebaiknya tidak dipakai bersamaan dengan eksfolian
Mencampur banyak bahan aktif sekaligus adalah cara tercepat membuat kulit iritasi. Saat baru mulai, Cleveland Clinic menyarankan glycolic acid tidak dipakai bersama eksfolian lain seperti lactic acid dan salicylic acid, retinol, dan serum vitamin C. Alasannya praktis: dengan bahan aktif yang lebih sedikit, kamu bisa tahu bahan mana yang memicu masalah.
| Kombinasi | Saran untuk pemula | Alasan bersumber |
|---|---|---|
| AHA + BHA | Pakai di waktu berbeda | Dua eksfolian sekaligus mudah berlebihan (AHA dan BHA) |
| AHA + retinol | Pakai di malam berbeda | Keduanya meningkatkan kepekaan matahari (AHA dan retinol) |
| AHA + serum vitamin C | Pakai di waktu berbeda | Bisa mengganggu keseimbangan pH kulit (Cleveland Clinic) |
| Eksfolian + niacinamide | Boleh | Niacinamide dapat menenangkan iritasi dari eksfolian kuat |
Soal niacinamide, Cleveland Clinic menulis bahan ini dapat menenangkan iritasi akibat eksfolian kuat seperti retinol atau glycolic acid. Detailnya ada di halaman niacinamide. Kalau kamu sedang memakai retinol, atur jadwalnya bersama panduan retinol untuk pemula supaya malam retinol dan malam eksfoliasi tidak bertabrakan. Ragu dengan produk yang kamu punya? Cek dulu lewat pengecek kecocokan bahan.
Produk eksfoliasi wajah untuk pemula: baca label dan batas BPOM
"Eksfoliasi wajah yang bagus" bukan soal merek, tetapi soal kadar, bentuk produk, dan izin edar. Di Indonesia, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur glycolic acid dan lactic acid pada sediaan kulit yang dipakai sendiri maksimal 10 persen total sebagai asam, dengan pH sediaan jadi minimal 3,5.
Aturan yang sama membuat batas yang jelas antara produk rumahan dan tindakan medis. Kadar di atas 10 sampai 20 persen hanya boleh diaplikasikan dokter, dan kadar di atas 20 persen hanya oleh dokter spesialis kulit dan kelamin. Jadi kalau ada "peeling" AHA berkadar tinggi yang dijual bebas untuk dipakai sendiri, itu tanda bahaya, bukan nilai lebih.
Peraturan ini juga mengatur peringatan di kemasan. Produk dengan glycolic dan/atau lactic acid berkadar 2,5 persen atau lebih yang tidak mengandung tabir surya wajib memuat peringatan untuk memakai tabir surya, memakai pakaian pelindung, dan membatasi paparan matahari selama pemakaian dan sampai seminggu sesudahnya. Peringatan ini tidak diwajibkan untuk produk yang mengandung bahan tabir surya, produk dengan kadar AHA di bawah 2,5 persen, atau produk untuk area tubuh yang tidak terkena matahari. Karena itu, label tanpa peringatan bukan alasan melewatkan sunscreen. Saran kami tetap sama: setiap kali memakai AHA, pakai sunscreen keesokan paginya.
Untuk pemula, pendapat redaksi kami: pilih satu produk saja, berkadar rendah, dan berbentuk yang mudah dikendalikan, misalnya pembersih yang langsung dibilas. Di label, AHA biasanya tertulis glycolic acid atau lactic acid. Menurut FDA, BHA bisa tertulis salicylic acid, salicylate, sodium salicylate, atau willow extract. PHA tertulis gluconolactone atau lactobionic acid.
Terakhir, pastikan produknya legal. Nomor notifikasi di kemasan bisa dicocokkan di situs Cek BPOM resmi, dan langkah lengkapnya ada di panduan cek BPOM. Nama produk dan merek di hasil pencarian harus sama persis dengan kemasan.
Kapan sebaiknya tidak eksfoliasi, dan kapan ke dokter kulit
Ada kondisi di mana eksfoliasi sebaiknya dihentikan atau tidak dimulai sama sekali:
- Rosacea. AAD meminta penderita rosacea menghindari menggosok, scrub, atau memijat kulit, karena apa pun yang mengiritasi bisa memicu kambuh.
- Kulit berjerawat. Di halaman tips perawatan jerawat, AAD menyarankan pemilik kulit berjerawat secara umum menghindari produk yang mengiritasi, termasuk astringen, toner, dan eksfolian, karena bisa membuat kulit kering dan jerawat tampak lebih parah. Halaman eksfoliasi AAD menyebut kulit berjerawat bisa memilih waslap dan eksfolian kimia ringan. Kami membaca dua saran ini dengan hati-hati: kalau jerawatmu sedang banyak atau kulit mudah iritasi, tunda eksfoliasi; kalau tetap ingin mencoba, pilih cara paling ringan dan berhenti bila kulit memerah. Jerawat yang nyeri dan dalam butuh dokter, bukan scrub.
- Kulit sensitif, kering, atau eksim. Cleveland Clinic meminta kehati-hatian memakai glycolic acid pada kulit sensitif, kulit kering, rosacea, eksim, atau infeksi kulit aktif.
- Remaja awal. Dokter kulit AAD menyarankan anak praremaja dan remaja menghindari produk berbahan aktif seperti retinol, vitamin C, dan asam eksfoliasi, kecuali dianjurkan dokter kulit.
- Hamil atau menyusui. Cleveland Clinic menyebut glycolic acid umumnya aman dalam kadar rendah, tetapi tetap perlu dikonsultasikan ke tenaga kesehatan. DermNet menyarankan menghindari salicylic acid kadar tinggi selama hamil.
Peeling di klinik juga berbeda dari eksfoliasi rumahan. DermNet menjelaskan peeling sedang sampai dalam biasanya dilakukan dokter kulit atau dokter bedah plastik. Selebihnya, ikuti saran PERDOSKI untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin bila muncul gatal berkepanjangan, ruam, perubahan warna kulit, atau benjolan yang tidak kunjung membaik.
Kalau kulitmu sehat dan hanya terasa kusam, kembali ke prinsip awal: satu produk, frekuensi rendah, pelembap sesudahnya, dan sunscreen keesokan paginya. Komedo yang membandel punya panduannya sendiri di cara menghilangkan komedo dengan aman, dan panduan perawatan lainnya ada di pilar skincare.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu eksfoliasi wajah?
Eksfoliasi wajah adalah proses mengangkat sel kulit mati dari lapisan terluar kulit wajah. Caranya ada dua: fisik, memakai scrub, spons, atau sikat, dan kimia, memakai asam seperti AHA, BHA, atau PHA yang melarutkan ikatan antar sel kulit mati.
Eksfoliasi wajah berapa kali seminggu?
Untuk pemula, mulai 1-2 kali seminggu. Dokter residen dermatologi yang dikutip Cleveland Clinic menyarankan glycolic acid dimulai sekali atau dua kali seminggu lalu dinaikkan hanya bila kulit menoleransinya. Patokan AAD: makin keras caranya, makin jarang dipakai. Kalau kulit memerah atau perih, kurangi.
Eksfoliasi berapa menit?
Untuk scrub atau eksfolian yang dibilas, AAD menyarankan sekitar 30 detik dengan gerakan memutar kecil yang lembut, lalu bilas dengan air suam-suam kuku. Untuk toner, serum, atau masker eksfoliasi, ikuti waktu di label dan jangan melebihi petunjuk pemakaiannya.
Mana yang lebih baik, eksfoliasi fisik atau kimia?
Tergantung jenis kulit. AAD menyebut kulit kering, sensitif, atau berjerawat lebih cocok dengan waslap dan eksfolian kimia ringan, sedangkan kulit berminyak dan tebal bisa menoleransi cara yang lebih kuat. Kulit gelap atau yang mudah meninggalkan noda gelap sebaiknya menghindari eksfoliasi yang keras.
Setelah eksfoliasi pakai apa?
Langsung pakai pelembap, karena eksfoliasi bisa membuat kulit kering. Keesokan paginya pakai sunscreen broad spectrum SPF 30 atau lebih, karena AHA meningkatkan kepekaan kulit terhadap sinar matahari. FDA juga menyarankan perlindungan matahari bagi pengguna produk BHA.
Bolehkah eksfoliasi dan retinol dipakai di malam yang sama?
Untuk pemula sebaiknya tidak. Cleveland Clinic menyarankan glycolic acid tidak dipadukan dengan retinol, serum vitamin C, atau eksfolian lain saat baru mulai, dan AAD mengingatkan retinol bisa membuat eksfoliasi lebih mengeringkan. Pakai keduanya di malam yang berbeda.
Apa tanda eksfoliasi wajah terlalu sering?
Kulit memerah dan teriritasi menurut AAD, serta kering dan makin peka menurut Cleveland Clinic. Rasa perih saat memakai pelembap biasa juga sinyal untuk berhenti sementara. Kulit yang terlalu kering bisa memproduksi minyak lebih banyak, sehingga komedo justru bertambah. Turunkan frekuensinya dan pakai satu produk saja.
Berapa kadar AHA yang boleh dipakai sendiri di rumah?
Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 membatasi glycolic acid dan lactic acid pada sediaan kulit yang dipakai sendiri maksimal 10 persen total sebagai asam, dengan pH minimal 3,5. Kadar di atas 10 sampai 20 persen hanya boleh diaplikasikan dokter, dan di atas 20 persen hanya oleh dokter spesialis kulit dan kelamin.
Sumber
Klaim kesehatan kulit di artikel ini bersandar pada sumber dermatologi dan regulator berikut. Semua tautan dibuka di tab baru.
- How to safely exfoliate at homeAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- Glycolic Acid: What Is It and How Does It Work?Cleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
- The Correct Order for Skin Care ProductsCleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
- 9 Ways To Get Rid of BlackheadsCleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
- 5 Ways to Exfoliate Your Skin Without IrritationCleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
- Alpha Hydroxy AcidsU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
- Beta Hydroxy AcidsU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
- The use of polyhydroxy acids (PHAs) in photoaged skin (Grimes dkk., Cutis 2004)PubMed (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov), diakses
- Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan KosmetikBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (peraturan.go.id), diakses
- Chemical peelsDermNet (dermnetnz.org), diakses
- 7 rosacea skin care tips dermatologists recommendAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- Acne: Tips for managingAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- Acne: Diagnosis and treatmentAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- What can treat large facial pores?American Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- A dermatologist's guide to skincare from growing up to glowing upAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- How to test skin care productsAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
- Top 6 Benefits of NiacinamideCleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
- Acne in pregnancyDermNet (dermnetnz.org), diakses
- Pentingnya Menjaga Kesehatan Kulit untuk Mendukung Kualitas Hidup yang Lebih BaikPERDOSKI (perdoski.id), diakses



