Cek izin edar kosmetikmu sebelum beliLihat panduan

SunscreenPanduan

Contoh Physical Sunscreen, Chemical, dan Hybrid: Bedanya dan Mana yang Cocok untuk Kulitmu

Contoh physical sunscreen, chemical, dan hybrid dilihat dari bahan aktifnya, cara membaca label, kelebihan dan kekurangan, serta pilihan sesuai jenis kulitmu.

Tim Redaksi CantikmuDiperbarui Baca 11 menit
Ilustrasi tiga panel: sunscreen physical berupa lapisan berisi partikel mineral putih, chemical berupa lapisan merah muda tanpa partikel, dan hybrid berupa lapisan merah muda dengan beberapa partikel, masing-masing di atas lapisan kulit yang terkena panah sinar UV
Ilustrasi Cantikmu: ketiga jenis sunscreen sama-sama menyerap sebagian besar sinar UV. Yang membedakan adalah bahan aktifnya. Diolah dari AAD, Cleveland Clinic, dan Cole dkk. (2016).
Jawaban singkat

Contoh physical sunscreen adalah sunscreen yang bahan aktifnya hanya zinc oxide, titanium dioxide, atau keduanya, sedangkan chemical sunscreen memakai filter seperti avobenzone, octocrylene, atau homosalate, dan hybrid mencampur kedua kelompok itu. Ketiganya sama-sama melindungi selama berlabel spektrum luas, SPF 30 atau lebih, dan tahan air. Physical biasanya lebih bersahabat untuk kulit sensitif tetapi bisa meninggalkan sisa putih, sedangkan chemical umumnya lebih ringan dan bening di kulit.

Contoh physical sunscreen adalah sunscreen yang bahan aktifnya hanya zinc oxide, titanium dioxide, atau keduanya. Kalau keduanya tidak ada, itu chemical sunscreen, dengan bahan seperti avobenzone, octocrylene, atau homosalate. Kalau dicampur, namanya hybrid. Ketiganya sama-sama melindungi asalkan berlabel spektrum luas, SPF 30 atau lebih, dan tahan air.

Jadi pertanyaan "physical atau chemical yang lebih bagus" sebenarnya kurang tepat. Yang lebih berguna: bagaimana mengenali jenisnya dari label, apa konsekuensinya untuk kulitmu, dan kapan nama produk bisa menipu. Panduan ini membahas semuanya, termasuk contoh physical sunscreen dan chemical sunscreen dari pasar Indonesia beserta cara memeriksanya. Cantikmu tidak membuat peringkat merek karena belum ada uji pemakaian yang kami lakukan, jadi nama merek di sini hanya contoh rujukan, bukan rekomendasi.

Apa itu physical sunscreen dan chemical sunscreen?

Menurut American Academy of Dermatology (AAD), perbedaan utamanya ada di bahan aktif. Sunscreen yang bahan aktifnya titanium dioxide, zinc oxide, atau keduanya disebut physical sunscreen, atau mineral sunscreen. Sunscreen yang tidak mengandung keduanya disebut chemical sunscreen. AAD juga menyebut ada sunscreen hybrid, yang memuat bahan aktif dari kedua kelompok.

Cara kerja yang sering diajarkan berbunyi begini: physical memantulkan sinar, chemical menyerap sinar. Cleveland Clinic menjelaskan filter chemical bekerja seperti spons yang menyerap sinar UV lalu mengubahnya menjadi panas yang dilepas dari kulit. Untuk physical, penjelasannya lebih bernuansa, dan itu dibahas di bagian berikutnya.

Physical (mineral)ChemicalHybrid
Bahan aktifZinc oxide dan/atau titanium dioxide sajaFilter organik, mis. avobenzone, octocrylene, homosalateCampuran mineral dan filter organik
Tampilan di kulitCenderung opak, bisa meninggalkan sisa putihUmumnya beningBergantung formula
Tekstur umumLebih kental, sedikit lebih sulit diratakanLebih ringan dan mudah menyatuBergantung formula
Mulai bekerjaBegitu dioleskan (Cleveland Clinic)Sekitar 20 menit setelah dioleskan (Cleveland Clinic)Bergantung formula

Satu catatan praktis: apa pun jenisnya, AAD tetap menyarankan sunscreen dioleskan ke kulit kering sekitar 15 menit sebelum keluar ruangan. Jadi perbedaan waktu mulai bekerja jarang mengubah rutinitas pagimu.

Benarkah physical sunscreen memantulkan sinar UV?

Hanya sedikit. Ini mitos yang paling sering diulang, termasuk di banyak artikel kecantikan. Studi Cole, Shyr, dan Ou-Yang (2016) mengukur langsung pantulan zinc oxide dan titanium dioxide memakai alat bernama integrating sphere. Hasilnya, rata-rata pantulan di seluruh rentang UV hanya 4 sampai 5%, setara perlindungan kurang dari SPF 2. Sisanya diberikan lewat penyerapan. Kesimpulan penulisnya tegas: kedua bahan itu melindungi terutama dengan menyerap sinar UV, bukan memantulkan atau menghamburkannya.

Perlu dicatat, dua dari tiga penulis studi itu bekerja di Johnson & Johnson, perusahaan yang juga memproduksi sunscreen. Namun AAD sampai pada gambaran serupa: physical, chemical, maupun hybrid semuanya membentuk lapisan pelindung di kulit yang menyerap sinar matahari. Physical sunscreen, kata AAD, selain menyerap juga memantulkan sinar.

Wajah seorang pria difoto dua kali: kiri dengan cahaya biasa, kanan dengan kamera ultraviolet yang memperlihatkan separuh wajah bersunscreen tampak jauh lebih gelap
Separuh wajah diolesi sunscreen SPF 50, difoto dengan cahaya biasa (kiri) dan cahaya UV-A (kanan). Sisi bersunscreen tampak gelap karena sinar UV diserap, bukan dipantulkan kembali ke kamera.Foto: Spigget / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Kenapa ini penting buatmu? Karena label "memantulkan sinar" sering dipakai untuk menjual physical sunscreen seolah bekerja dengan cara yang lebih alami atau lebih kuat. Menurut redaksi Cantikmu, alasan memilih physical sebaiknya alasan yang memang terbukti, misalnya kulitmu sensitif, bukan anggapan soal cara kerja. Kalau kamu ingin tahu lebih jauh soal bahannya, baca halaman zinc oxide dan titanium dioxide.

Contoh bahan aktif physical, chemical, dan hybrid di label

Di Indonesia, bahan yang boleh dipakai sebagai tabir surya dalam kosmetik diatur di Lampiran IV Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025. Daftarnya berisi puluhan entri. Hanya dua bahan di antaranya yang mineral, yaitu zinc oxide dan titanium dioxide, masing-masing dengan kadar maksimum 25%. Sisanya filter organik, yang dikenal sebagai filter chemical. Berikut beberapa yang paling sering muncul di kemasan, dengan nama INCI (nama baku bahan kosmetik di daftar komposisi):

Nama di label (INCI)Nama lainKelompokKadar maksimum BPOM
Zinc oxide-Mineral25%
Titanium dioxide-Mineral25%
Butyl methoxydibenzoylmethaneAvobenzoneChemical5%
Ethylhexyl methoxycinnamateOctinoxate, octyl methoxycinnamateChemical10%
Octocrylene-Chemical10% (9% untuk spray propelan)
Homosalate-Chemical10%, dengan batasan jenis sediaan
Ethylhexyl salicylateOctisalateChemical5%
Benzophenone-3OxybenzoneChemical6% untuk sediaan wajah, tangan, dan bibir (bukan spray)
Bis-ethylhexyloxyphenol methoxyphenyl triazine-Chemical10%
Diethylamino hydroxybenzoyl hexyl benzoate-Chemical10%

Sebagian besar nama lain di tabel adalah nama yang dipakai di daftar bahan aktif sunscreen versi FDA, yang mencantumkan antara lain avobenzone, homosalate, octinoxate, octisalate, octocrylene, oxybenzone, titanium dioxide, dan zinc oxide. Untuk oxybenzone yang dipakai sebagai tabir surya, BPOM bahkan mewajibkan label menyebut "Mengandung Benzophenone-3".

Ada jebakan kecil di sini. Lampiran II peraturan yang sama juga mengizinkan titanium dioxide sebagai pewarna putih dengan kode CI 77891. Jadi di produk tinted atau tone up, titanium dioxide di daftar bahan belum tentu berfungsi sebagai tabir surya. Kalau kemasan tidak memisahkan bahan aktif, kamu bisa mengecek fungsi bahan yang belum kamu kenal di alat cek bahan.

Cara mengenali jenis sunscreen dari kemasan

Tiga pertanyaan ini cukup untuk hampir semua produk di rak toko:

  1. Ada bagian bahan aktif? AAD menyarankan melihat bagian berlabel "Active Ingredients" di kemasan. Tidak semua produk punya bagian itu, jadi kalau tidak ada, baca daftar komposisi lengkap.
  2. Ada zinc oxide atau titanium dioxide sebagai tabir surya? Kalau tidak ada, itu chemical sunscreen.
  3. Ada filter lain dari tabel di atas? Kalau tidak ada, itu physical. Kalau ada, itu hybrid.

Diagram alur tiga langkah: baca bahan aktif, cek ada atau tidaknya zinc oxide dan titanium dioxide, lalu cek filter UV lain untuk menentukan sunscreen chemical, physical, atau hybrid
Tiga pertanyaan untuk menentukan jenis sunscreen dari label. Diolah dari definisi AAD dan Lampiran Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025.

Yang tidak bisa dijadikan patokan: nama produk, warna kemasan, dan tekstur. Saat redaksi Cantikmu mencari di situs Cek Produk BPOM pada 17 Oktober 2026, kata "physical sunscreen" memunculkan 148 entri, "mineral sunscreen" 102 entri, dan "hybrid sunscreen" 92 entri. Kata "chemical sunscreen" hanya memunculkan 4 entri. Satu produk bisa punya lebih dari satu entri, jadi angka ini bukan jumlah produk. Tetap saja polanya jelas: produsen senang memasang kata physical atau mineral di nama produk, tetapi hampir tidak ada yang menamai produknya chemical. Artinya, sebagian besar chemical sunscreen di pasaran tidak memberi tahu jenisnya lewat nama, jadi kamu harus membaca komposisinya sendiri.

Contoh physical sunscreen lokal dan contoh chemical sunscreen

Dua contoh berikut kami pilih karena memperlihatkan masalah yang sama dari dua arah. Keduanya bukan rekomendasi.

Contoh nama "physical" dari merek lokal. Wardah menjual UV Shield Physical Sunscreen Serum SPF50+ PA++++. Kata physical ada di nama produk di situs resmi brand, tetapi saat dicek pada 17 Oktober 2026, tab bahan di halaman itu hanya menonjolkan bahan pendukung (Uji Kyoto Matcha, heartleaf, oatmeal), tanpa daftar komposisi lengkap. Di Cek Produk BPOM, nama produk ini tercatat dengan beberapa nomor notifikasi, misalnya NA18251703250 (terbit 8 September 2025, dicek 17 Oktober 2026). Jadi legalitasnya bisa dicek, tetapi klaim physical-nya tetap klaim brand. Sebelum membeli, pastikan komposisi di kemasan memang hanya berisi zinc oxide dan/atau titanium dioxide sebagai tabir surya.

Contoh label "chemical" dari toko resmi. Toko resmi Azarine menyebut Hydrasoothe Sunscreen Gel SPF 45 PA++++ sebagai chemical sunscreen. Namun dalam ulasan bahan Azarine Hydrasoothe Sunscreen Gel, redaksi menemukan daftar bahan lengkapnya tidak dipublikasikan di situs brand maupun toko resminya. Akibatnya, jenis filter dan kadarnya tidak bisa dipastikan dari sumber resmi.

Pelajarannya: saat mencari contoh physical sunscreen atau chemical sunscreen, label jenis di nama produk atau di judul toko adalah titik awal, bukan bukti. Bukti ada di komposisi kemasan dan nomor notifikasi yang cocok di BPOM. Cara mengecek nomornya langkah demi langkah ada di panduan cek BPOM.

Sunscreen hybrid: kenapa banyak dipakai, dan apakah lebih unggul?

Sunscreen hybrid memadukan zinc oxide atau titanium dioxide dengan satu atau lebih filter chemical. Contoh hybrid sunscreen gampang dikenali dari komposisinya: ada zinc oxide atau titanium dioxide sebagai tabir surya, lalu ada juga nama seperti ethylhexyl methoxycinnamate, octocrylene, atau bis-ethylhexyloxyphenol methoxyphenyl triazine.

Banyak orang mengira hybrid otomatis paling unggul karena "dapat dua-duanya". Sumber rujukan artikel ini tidak mendukung anggapan itu. AAD menegaskan physical, chemical, maupun hybrid bisa melindungi dengan efektif selama memenuhi tiga syarat yang sama: spektrum luas, tahan air, dan SPF 30 atau lebih. Hybrid juga mewarisi kelebihan dan kekurangan kedua kelompok. Kalau kulitmu bereaksi terhadap filter chemical tertentu, hybrid tetap bisa memicunya.

Menurut redaksi, hybrid bisa jadi jalan tengah untuk dicoba bila kamu ingin unsur mineral tetapi kurang cocok dengan tekstur physical murni. Tetap nilai dari label dan dari bagaimana kulitmu merespons, bukan dari kata hybrid di kemasan.

Kelebihan dan kekurangan physical dan chemical sunscreen

Ringkasan dari Cleveland Clinic dan AAD:

Physical (mineral)Chemical
Kulit sensitifDisarankan dokter kulit (AAD); lebih kecil kemungkinan iritasi atau alergi (Cleveland Clinic)Risiko reaksi alergi lebih tinggi pada sebagian orang; bisa perih bila masuk mata
Sisa putih (white cast)Bisa terlihat, terutama pada warna kulit lebih gelapUmumnya bening
TeksturLebih kental, lebih beratLebih ringan, mudah menyatu
Ketahanan airBergantung formulaSering lebih tahan air dan keringat (Cleveland Clinic)
Status di FDADiusulkan sebagai bahan yang dikenal aman dan efektif (GRASE)Ada kekhawatiran soal penyerapan sebagian bahan ke aliran darah; FDA meminta data tambahan

Kalimat dari dokter residen dermatologi di artikel Cleveland Clinic itu paling layak diingat: sunscreen terbaik untukmu adalah sunscreen yang mau kamu pakai. Pendapat redaksi Cantikmu sejalan. Jenis filter jarang jadi masalah utama, yang lebih sering terjadi adalah sunscreen ditinggalkan karena terasa berat, lengket, atau membuat wajah keabu-abuan. Kalau physical terasa terlalu berat di kulitmu, chemical yang dipakai rutin jauh lebih berguna daripada physical yang tersimpan di laci.

Mana yang cocok untuk jenis kulitmu?

Kulit sensitif. AAD menyebut dokter kulit menyarankan physical atau mineral sunscreen. Sebelum memakai produk baru, lakukan uji tempel sesuai saran AAD di area kecil seperti lengan bagian dalam. Kalau kulitmu sering perih setelah ganti produk, baca juga tanda skin barrier rusak.

Kulit berminyak dan berjerawat. Cleveland Clinic menulis sunscreen mineral lebih kecil kemungkinannya menyumbat pori. Tapi jujur saja, formula dasarnya ikut menentukan. Patokan yang lebih pasti dari AAD adalah label "non-comedogenic" atau "won't clog pores", apa pun jenis filternya.

Kulit kering dan normal. Jenis filter tidak terlalu menentukan. Fokuslah pada tekstur yang nyaman, lalu pakai sunscreen setelah pelembap. Cleveland Clinic menempatkan sunscreen sebagai langkah terakhir rutinitas pagi, sesudah pembersih dan pelembap.

Kulit sawo matang dan flek hitam. Sisa putih physical sunscreen paling terlihat di warna kulit lebih gelap. Solusinya bukan selalu menghindari mineral. AAD menyarankan sunscreen tinted yang mengandung iron oxide untuk mencegah noda gelap, dengan syarat warnanya menyatu dengan warna kulitmu supaya tidak meninggalkan sisa putih. Untuk flek yang sudah ada, lanjutkan ke panduan cara menghilangkan flek hitam.

Sedang hamil. Tinjauan di Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology (2022) menilai physical sunscreen sebagai pilihan teraman selama kehamilan, karena titanium dioxide dan zinc oxide tidak terserap dan potensi iritasinya lebih rendah. Untuk keputusan selama kehamilan, konsultasikan juga dengan dokter atau bidanmu.

Sedang memakai retinol atau eksfolian. Jenis filter apa pun boleh, yang penting dipakai setiap pagi. AAD menulis retinoid, termasuk retinol, bisa membuat kulit lebih peka terhadap matahari, dan FDA menyebut hal yang sama untuk AHA. Untuk BHA, FDA juga menyarankan perlindungan matahari selama memakainya. Baca selengkapnya di panduan retinol untuk pemula dan eksfoliasi.

Kartu jenis sunscreen per kondisi: physical untuk kulit sensitif dan saat hamil, non-comedogenic untuk kulit berjerawat, tinted untuk sawo matang dan flek, jenis apa pun untuk pengguna retinol
Ringkasan bagian ini dalam satu tampilan. Diringkas dari AAD, Cleveland Clinic, dan tinjauan Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology (2022).

Belum yakin jenis kulitmu? Mulai dari kuis jenis kulit, lalu susun posisi sunscreen dalam rutinitas pagimu di alat urutan skincare.

Apakah chemical sunscreen aman?

Pertanyaan ini sering muncul setelah ramai pemberitaan soal penyerapan ke darah. Faktanya bernuansa.

Dalam uji klinis acak FDA yang terbit di JAMA (2020), 48 orang dewasa sehat memakai sunscreen di 75% permukaan tubuh, lalu mengulangnya empat kali sehari mulai hari kedua. Hasilnya, enam bahan aktif chemical (avobenzone, oxybenzone, octocrylene, homosalate, octisalate, dan octinoxate) terserap ke aliran darah dengan kadar melebihi ambang 0,5 ng/mL, batas FDA untuk mempertimbangkan pembebasan sebagian studi keamanan tambahan. Ambang itu sudah terlewati pada hari pertama setelah satu kali pemakaian. Namun para peneliti menulis temuan itu tidak berarti orang harus berhenti memakai sunscreen.

Kartu ringkasan uji klinis FDA di JAMA 2020: 48 orang dewasa sehat, enam filter chemical, kadar di atas 0,5 ng/mL, dan peneliti menegaskan sunscreen tetap dipakai
Inti uji klinis acak FDA yang terbit di JAMA (2020). Temuan penyerapan ini tidak berarti orang harus berhenti memakai sunscreen.

Di Amerika Serikat, FDA mengusulkan zinc oxide dan titanium dioxide sebagai bahan yang dikenal aman dan efektif (GRASE), sedangkan dua belas filter lain dinilai datanya belum cukup. FDA menegaskan penilaian itu bukan kesimpulan bahwa bahan tersebut tidak aman, melainkan permintaan data tambahan. Daftar itu juga terus bergerak: pada Juni 2026 FDA menambahkan bemotrizinol sebagai bahan aktif sunscreen baru.

Di Indonesia, semua filter chemical di tabel tadi diizinkan BPOM dengan batas kadar. Menurut redaksi, risiko yang lebih nyata buat kebanyakan orang adalah tidak memakai sunscreen sama sekali karena bingung memilih. Kalau kamu ingin berhati-hati, physical sunscreen adalah pilihan yang masuk akal, bukan karena chemical terbukti berbahaya.

Sebelum membeli, cek tiga hal ini

Jenis filter hanya satu dari beberapa keputusan. Patokan dasarnya tetap sama untuk semua jenis:

  • Spektrum luas dan SPF 30 atau lebih. PERDOSKI menjelaskan SPF mengukur perlindungan dari UVB, sedangkan PA (PA+ sampai PA++++) mengukur perlindungan dari UVA.
  • Tahan air bila kamu berkeringat atau berenang.
  • Nomor notifikasi BPOM yang cocok, plus komposisi di kemasan sesuai jenis yang kamu cari.

Satu hal lagi khas regulasi Indonesia: zinc oxide tidak boleh dipakai pada kosmetik yang penggunaannya bisa menyebabkan paparan ke paru-paru lewat hirupan. Jadi kalau kamu menemukan sunscreen semprot yang mengaku mengandung zinc oxide, cek dulu nomor notifikasinya di BPOM sebelum membeli. BPOM juga mewajibkan peringatan agar tidak terlalu lama terpapar matahari meskipun memakai tabir surya.

Untuk SPF berapa yang cukup, tekstur per jenis kulit, takaran, dan kapan mengulang, lanjutkan ke panduan memilih sunscreen yang bagus. Topik sunscreen lainnya ada di pilar Sunscreen.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa contoh bahan aktif physical sunscreen?

Hanya dua: zinc oxide dan titanium dioxide. AAD menyebut sunscreen yang bahan aktifnya salah satu atau keduanya sebagai physical atau mineral sunscreen. Di Indonesia, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 membatasi kadar masing-masing maksimal 25% sebagai bahan tabir surya.

Apa contoh bahan aktif chemical sunscreen?

FDA mencantumkan antara lain avobenzone, octocrylene, homosalate, octisalate, octinoxate, dan oxybenzone. Di label produk Indonesia namanya sering ditulis dengan nama INCI, misalnya butyl methoxydibenzoylmethane untuk avobenzone dan ethylhexyl methoxycinnamate untuk octinoxate.

Apakah sunscreen hybrid lebih bagus dari physical atau chemical?

Tidak otomatis. AAD menegaskan semua jenis sunscreen bisa melindungi dengan efektif selama berlabel spektrum luas, tahan air, dan SPF 30 atau lebih. Hybrid hanya berarti formulanya mencampur filter mineral dan filter kimia, jadi nilailah dari label dan kenyamanannya di kulitmu.

Physical atau chemical sunscreen untuk kulit sensitif?

AAD menulis dokter kulit menyarankan physical sunscreen untuk kulit sensitif, dan Cleveland Clinic menyebut sunscreen mineral lebih kecil kemungkinannya memicu iritasi atau reaksi alergi. Tetap lakukan uji tempel di area kecil sebelum memakainya di seluruh wajah.

Apakah chemical sunscreen berbahaya karena terserap ke darah?

Uji klinis FDA tahun 2020 memang menemukan enam bahan aktif chemical sunscreen terserap ke darah melebihi ambang kajian FDA, tetapi penelitinya menegaskan temuan itu tidak berarti orang harus berhenti memakai sunscreen. FDA juga menyatakan status data yang belum cukup bukan kesimpulan bahwa bahan itu tidak aman.

Benarkah physical sunscreen bekerja dengan memantulkan sinar UV?

Hanya sebagian kecil. Studi Cole, Shyr, dan Ou-Yang (2016) mengukur pantulan zinc oxide dan titanium dioxide rata-rata hanya 4 sampai 5% di seluruh rentang UV, setara perlindungan kurang dari SPF 2. Sisanya diberikan lewat penyerapan, jadi physical sunscreen terutama bekerja dengan menyerap sinar UV.

Kalau ada titanium dioxide di komposisi, apakah sunscreen itu pasti physical?

Belum tentu. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 juga mengizinkan titanium dioxide sebagai pewarna putih dengan kode CI 77891, misalnya di produk tinted atau tone up. Cek apakah bahan itu tercantum sebagai bahan aktif tabir surya, lalu periksa ada tidaknya filter chemical lain di komposisi.

Sunscreen jenis apa yang dinilai aman selama kehamilan?

Tinjauan di Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology (2022) menilai physical sunscreen sebagai pilihan teraman selama kehamilan, karena titanium dioxide dan zinc oxide tidak terserap dan potensi iritasinya lebih rendah. Untuk keputusan selama kehamilan, konsultasikan juga dengan dokter atau bidanmu.

Sumber

Rujukan yang dipakai untuk menyusun artikel ini. Semua tautan dibuka di tab baru.

  1. Sunscreen FAQsAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  2. Acne: Tips for managingAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  3. How to fade dark spots in darker skin tonesAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  4. How to test skin care productsAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  5. Mineral vs. Chemical Sunscreen: Which Is Better?Cleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
  6. The Correct Order for Skin Care ProductsCleveland Clinic (health.clevelandclinic.org), diakses
  7. Retinoid or retinol?American Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  8. Alpha Hydroxy AcidsU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
  9. Beta Hydroxy AcidsU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
  10. Metal oxide sunscreens protect skin by absorption, not by reflection or scattering (Cole, Shyr, Ou-Yang; Photodermatol Photoimmunol Photomed 2016)PubMed (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov), diakses
  11. Effect of Sunscreen Application on Plasma Concentration of Sunscreen Active Ingredients: A Randomized Clinical Trial (Matta dkk., JAMA 2020)PubMed Central (pmc.ncbi.nlm.nih.gov), diakses
  12. Skin Changes and Safety Profile of Topical Products During Pregnancy (J Clin Aesthet Dermatol 2022)PubMed Central (pmc.ncbi.nlm.nih.gov), diakses
  13. Questions and Answers: FDA's regulatory actions on over-the-counter sunscreenU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
  14. Sunscreen: How to Help Protect Your Skin from the SunU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
  15. Memahami SPF: Panduan Lengkap Memilih Sunscreen yang TepatPERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Kelamin dan Estetik Indonesia) (perdoski.id), diakses
  16. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik (Lampiran II bahan pewarna dan Lampiran IV bahan tabir surya)Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui JDIH peraturan.go.id, diakses
  17. Cek Produk BPOM (pencarian nama produk, dicek 17 Oktober 2026)Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (cekbpom.pom.go.id), diakses
  18. UV Shield Physical Sunscreen Serum SPF50+ PA++++ (klaim brand)Wardah (situs resmi brand) (wardahbeauty.com), diakses

Ditulis oleh

Tim Redaksi Cantikmu

Tim redaksi

Tim Redaksi Cantikmu adalah nama bersama untuk artikel skincare, makeup, rambut, dan kuku di blog ini. Draf disusun dengan bantuan AI, dan setiap klaim dicocokkan ke sumber yang ditautkan. Penerbit dan penanggung jawab situs: Ahmad Thariq Syauqi.

Lihat pedoman redaksi. Diperbarui .