Cek izin edar kosmetikmu sebelum beliLihat panduan

UlasanPanduan

Merkuri Skincare: Ciri Krim Bermerkuri dan Cara Mengeceknya di BPOM

Merkuri skincare dilarang BPOM. Kenali ciri krim bermerkuri, cara mengecek nomor notifikasi di situs BPOM, dan langkah aman bila terlanjur memakainya.

Tim Redaksi CantikmuDiperbarui Baca 12 menit

Belum ditinjau tenaga kesehatan. Untuk keluhan kulit yang berat atau tidak membaik, periksakan ke dokter kulit. Cari dokter spesialis kulit (PERDOSKI) (tab baru)

Dua tangan memegang wadah krim putih polos tanpa label dengan latar abu-abu
Krim bermerkuri tidak tampak berbeda dari krim biasa. Yang bisa kamu periksa sebelum mengoles adalah label dan nomor notifikasinya. Foto ilustrasi, bukan produk tertentu.Foto: Angela Roma / Pexels, Pexels License
Jawaban singkat

Merkuri skincare dilarang dalam kosmetik di Indonesia karena bisa menimbulkan bintik hitam, iritasi kulit, hingga kerusakan ginjal. Kandungan merkuri tidak bisa dipastikan dari tampilan krim, jadi saring dari tandanya: klaim hasil instan, label tidak lengkap, dan nomor notifikasi yang tidak ditemukan di situs Cek BPOM. Kalau terlanjur memakai, hentikan, cuci kulit yang terkena, periksakan ke dokter, dan laporkan produknya ke BPOM.

Merkuri skincare, yaitu merkuri atau senyawanya yang dicampurkan ke krim wajah, dilarang dalam kosmetik di Indonesia dan bisa merusak kulit sampai ginjal. Ciri yang paling bisa kamu periksa sendiri adalah klaim hasil instan, label yang tidak lengkap, dan nomor notifikasi yang tidak ditemukan di situs Cek BPOM.

Masalahnya, krim bermerkuri tidak tampak berbeda dari krim biasa. Panduan ini membahas kenapa merkuri dilarang, seberapa sering BPOM masih menemukannya, ciri yang bisa kamu saring sendiri, cara mengecek nomor notifikasi langkah demi langkah, dan apa yang perlu dilakukan bila kamu terlanjur memakainya. Ini topik keamanan, jadi setiap klaim di sini diambil dari BPOM, FDA, WHO, dan jurnal ilmiah yang tautannya bisa kamu buka sendiri.

Kenapa merkuri dilarang dalam skincare?

Di Indonesia jawabannya tegas. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 memasukkan "Mercury dan senyawanya" ke Lampiran V, yaitu daftar bahan yang tidak diizinkan digunakan dalam kosmetik, dan Pasal 5 melarang pelaku usaha memakai bahan dalam daftar itu. Artinya tidak ada kadar merkuri yang "aman" untuk skincare legal. Setiap skincare mengandung merkuri yang beredar sudah melanggar aturan.

Lalu kenapa masih ada yang mencampurkannya? Sebuah tinjauan sistematis di jurnal Environmental Health Perspectives menjelaskan bahwa garam merkuri anorganik, seperti mercurous chloride (calomel) dan mercuric chloride, sengaja ditambahkan ke produk pencerah karena mengganggu kerja enzim tirosinase. Enzim ini dibutuhkan kulit untuk membuat melanin, pigmen yang memberi warna kulit. Melanin berkurang, kulit tampak lebih terang. Tinjauan yang sama mencatat merkuri terserap lewat kulit, dan paparan merkuri anorganik dikaitkan dengan gangguan ginjal, kelainan saraf, dan ruam kulit.

BPOM merangkum risikonya dalam satu kalimat: merkuri mengakibatkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga kerusakan ginjal. Dalam siaran pers 2019, BPOM juga menyebut merkuri bersifat karsinogenik (memicu kanker) dan teratogenik (bisa menyebabkan cacat pada janin). WHO menambahkan merkuri bisa berdampak pada sistem saraf, pencernaan, kekebalan tubuh, paru-paru, ginjal, kulit, dan mata.

Yang jarang dibahas: risikonya tidak berhenti di pemakai. FDA memperingatkan keluarga pemakai bisa menghirup uap merkuri atau terpapar lewat handuk dan waslap yang terkontaminasi. Ibu hamil, bayi yang menyusu, dan anak kecil termasuk kelompok paling rentan, karena merkuri bisa berpindah lewat ASI.

Menurut redaksi Cantikmu, ironi terbesarnya ada di sini: orang memakai krim bermerkuri untuk meratakan warna kulit, padahal salah satu akibat yang dicatat BPOM justru bintik hitam.

Masih beredar? Ini data temuan BPOM

Indonesia sudah mengesahkan Konvensi Minamata mengenai merkuri lewat UU Nomor 11 Tahun 2017, dan menurut tinjauan di atas, konvensi ini mewajibkan negara anggota melarang produksi, impor, dan ekspor krim serta sabun dengan kadar merkuri di atas 1 mikrogram per gram setelah 2020. Meski begitu, temuan merkuri skincare di lapangan belum nol.

PeriodeTemuan BPOMSumber
Tahun 2018Kosmetik mengandung merkuri mencapai 230 produkSiaran pers BPOM, Agustus 2019
Juli 2020 sampai September 202110,22% dari kosmetik yang tidak memenuhi syarat mengandung merkuriBerita BPOM, Oktober 2021
Triwulan I 202611 kosmetik mengandung bahan berbahaya atau dilarang, termasuk merkuri; 3 merek tanpa izin edarSiaran pers BPOM, April 2026
Triwulan II 202614 kosmetik mengandung bahan berbahaya atau dilarang, termasuk merkuri; 11 produk lokal hasil kontrak produksi, 1 impor, 2 tanpa izin edarSiaran pers BPOM, Juli 2026

Sebagai pembanding, halaman depan Cek Produk BPOM mencatat 371.860 kosmetik teregistrasi yang masih berlaku saat dibuka redaksi pada 17 Oktober 2026 malam. Jadi temuan produk berbahaya jumlahnya kecil dibanding produk terdaftar. Kecil bukan berarti jarang kamu temui, karena produk bermasalah cenderung dijual lewat jalur yang sulit diawasi. Di catatan BPOM tahun 2022, Balai Besar POM di Makassar melaporkan 80% dari 46 kasus kosmetik ilegal yang ditemukannya sejak 2019 sampai Juli 2022 diedarkan secara online.

Ciri skincare bermerkuri yang bisa kamu periksa sendiri

Tidak ada satu ciri yang membuktikan sebuah krim mengandung merkuri. Yang ada adalah tanda yang membuat produk pantas dicurigai. Enam tanda di bawah ini bersumber dari BPOM dan FDA.

  1. Menjanjikan hasil instan. BPOM menyebut kosmetik mengandung merkuri "mempunyai efek instan untuk memutihkan namun sangat berbahaya bagi kesehatan", dan pada 2026 kembali mengimbau konsumen tidak mudah tergiur klaim instan tanpa jaminan keamanan. FDA menambahkan produk semacam ini biasanya dipasarkan sebagai pencerah dan antipenuaan yang diklaim menghapus bintik penuaan, flek, noda, dan kerutan, bahkan dipakai remaja untuk jerawat.
  2. Tanpa label atau tanpa daftar bahan. FDA menegaskan, kalau bahan tidak dicantumkan dan produk tidak berlabel, jangan menganggapnya aman. Balai POM di Tasikmalaya merinci isi label yang seharusnya ada, antara lain nama produk, komposisi, nomor notifikasi, nomor bets, tanggal kedaluwarsa, negara produsen, serta nama dan alamat pemilik notifikasi.
  3. Ada kata merkuri di label. Menurut FDA, bila label memuat "mercurous chloride", "calomel", "mercuric", "mercurio", atau "mercury", produk itu mengandung merkuri dan harus segera berhenti dipakai.
  4. Nomor notifikasi tidak ditemukan atau tidak cocok. Cara mengeceknya ada di bagian berikutnya.
  5. Label fotokopi, barcode palsu, atau alamat tidak jelas. Dalam berita BPOM tahun 2022, kepolisian Sulawesi Selatan menyebut modus pengedar kosmetik ilegal dan bermerkuri: merekayasa nama perusahaan, label berupa fotokopi, barcode palsu yang tidak terdaftar di BPOM, dan alamat industri yang direkayasa.
  6. Krim racikan tanpa izin edar. Berita yang sama mencatat ada toko tanpa izin yang meracik kosmetik sendiri untuk dijual, dan pengedar yang menawarkan citra "cantik instan" sekaligus peluang menjadi reseller.

Diagram dua panel: enam tanda waspada krim bermerkuri di kiri dan empat langkah Cek KLIK dari BPOM, yaitu kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa, di kanan
Enam tanda waspada dirangkum dari siaran pers dan berita BPOM serta panduan FDA. Cek KLIK adalah kampanye resmi BPOM. Diagram: Cantikmu.

Jujur saja, tanda nomor 3 paling jarang membantu. Produk yang sengaja dicampur merkuri hampir pasti tidak mencantumkannya, jadi label tanpa kata merkuri belum membuktikan apa-apa. Itu sebabnya tanda nomor 2, 4, dan 5 lebih berguna.

Bagaimana dengan ciri fisik yang ramai dibagikan, seperti warna krim yang terlalu mengilap, bau menyengat, atau tes rumahan tertentu? Di sumber resmi yang redaksi baca untuk artikel ini, ciri seperti itu tidak dipakai sebagai patokan. BPOM sendiri menyatakan seluruh produk dalam daftar temuannya sudah melalui pengujian laboratorium. Jadi pakai ciri di atas untuk menyaring, bukan untuk "membuktikan" krim temanmu aman.

Bedak merkuri, sabun, dan produk lain: bukan hanya krim

Banyak orang mencari "bedak merkuri", jadi wajar kalau ada yang bertanya apakah bedak juga berisiko. Data yang tersedia paling banyak membahas krim. Dari 787 produk pencerah yang dianalisis tinjauan di Environmental Health Perspectives, 70,1% berupa krim, 19,3% sabun, 4,6% krim wajah, dan 6,0% produk lain. FDA juga menyebut krim kulit, sabun kecantikan dan antiseptik, serta losion sebagai produk yang perlu diwaspadai.

Bedak tidak disebut khusus di sumber-sumber itu. Namun bedak tetap kosmetik, dan Balai Besar POM di Denpasar menegaskan setiap kosmetik hanya boleh diedarkan setelah mendapat izin edar berupa notifikasi. Jadi cara memeriksa bedak sama persis dengan krim. Menurut redaksi, yang patut diwaspadai adalah produk tanpa merek dan alamat produsen yang jelas, apa pun bentuknya.

Satu kebiasaan yang redaksi sarankan: kalau ragu dengan nama sebuah produk, buka lampiran siaran pers BPOM. Setiap rilis temuan kosmetik berbahaya memuat daftar nama produknya, dan semua rilis bisa kamu telusuri di halaman siaran pers BPOM. Cantikmu sengaja tidak menyalin daftar itu, supaya kamu selalu melihat versi terbaru langsung dari sumbernya.

Cara mengecek skincare di BPOM langkah demi langkah

Mengecek nomor notifikasi hanya butuh beberapa menit. Ini urutannya:

  1. Temukan nomor notifikasi di label. Menurut Balai Besar POM di Denpasar, nomor notifikasi kosmetik diawali NA (Asia), NB (Australia), NC (Eropa), ND (Afrika), atau NE (Amerika), lalu diikuti 11 digit angka. Huruf kedua menunjukkan benua asal produk, bukan tanda produk lokal atau impor.
  2. Buka situs atau aplikasi resmi. Pakai cekbpom.pom.go.id atau aplikasi BPOM Mobile. Menurut Balai POM di Tasikmalaya, aplikasinya bisa memindai kode QR pada kemasan.
  3. Ketik nomor notifikasi di kolom pencarian. Pencarian dengan nama produk atau nama produsen juga bisa, tetapi nomor paling cepat mengerucutkan hasil.
  4. Cocokkan hasilnya dengan produk di tanganmu. Periksa nama produk, merek, kemasan, dan nama pendaftar. Nomor yang terdaftar tetapi untuk produk lain sama mencurigakannya dengan nomor yang tidak ada.
  5. Kalau tidak ditemukan, jangan dipakai. Balai Besar POM di Denpasar menjelaskan produk yang tidak ditemukan berarti belum ternotifikasi, sehingga mutu dan keamanannya tidak dijamin. Situs BPOM kadang lambat, jadi ulangi pencarian sekali lagi sebelum menyimpulkan.

Halaman Daftar Semua Produk di situs Cek Produk BPOM dengan nomor contoh NA00000000000 di kolom pencarian dan hasil No matching records found
Tangkapan layar cekbpom.pom.go.id, diambil 17 Oktober 2026. Nomor contoh NA00000000000 sengaja dibuat untuk memperlihatkan tampilan saat nomor tidak terdaftar: tabelnya kosong dengan tulisan No matching records found. Tampilan dan merek milik pemiliknya.

Diagram alur lima langkah mengecek nomor notifikasi kosmetik: temukan nomor di label, buka situs resmi, ketik nomornya, cocokkan produknya, dan jangan dipakai bila tetap tidak ditemukan
Lima langkah mengecek nomor notifikasi dalam satu alur. Langkah keempat, mencocokkan nama produk, paling sering dilewati. Diagram: Cantikmu, dirangkum dari Balai Besar POM di Denpasar dan Balai POM di Tasikmalaya.

Langkah 4 sering dilewati, padahal penting. Saat menyiapkan ulasan bahan untuk pilar Ulasan, redaksi Cantikmu menemukan listing sebuah cushion di marketplace yang mencantumkan nomor notifikasi milik produk lain, yaitu sebuah masker, ketika dicek di situs BPOM. Karena itu setiap ulasan bahan di Cantikmu mencocokkan nama produk di situs BPOM, bukan hanya memastikan nomornya ada.

Satu hal lagi: notifikasi kosmetik berlaku 3 tahun dan bisa diperpanjang, sesuai Pasal 45 Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022. Panduan lengkap dengan tangkapan layar tiap langkah ada di halaman cara cek BPOM.

Sudah terdaftar BPOM, apakah pasti bebas merkuri?

Ini bagian yang paling sering disederhanakan. Nomor notifikasi adalah syarat minimum, bukan jaminan seumur hidup.

Lihat lagi tabel di atas. Pada triwulan II 2026, 11 dari 14 produk yang terjaring adalah produk lokal hasil kontrak produksi, dan sebagai tindak lanjut BPOM mencabut izin edarnya serta menghentikan sementara produksi, distribusi, dan impornya. Artinya sebagian produk yang terbukti mengandung bahan dilarang sempat memegang izin edar sebelum dicabut. Di sisi lain, ada juga pelaku yang memalsukan barcode atau nomor, seperti dicatat BPOM pada 2022.

Pendapat redaksi: nomor BPOM tetap saringan pertama yang paling efektif, karena sebagian besar masalah datang dari produk tanpa izin edar. Untuk menekan risiko merkuri skincare, tambahkan dua kebiasaan kecil. Pertama, cocokkan nama produk setiap kali membeli dari penjual yang belum kamu kenal. Kedua, sesekali cek daftar temuan terbaru BPOM, terutama untuk produk pencerah yang kamu pakai setiap hari.

Hidrokuinon dan bahan dilarang lain yang sering ikut terjaring

Merkuri jarang sendirian di daftar temuan. Dalam siaran pers triwulan II 2026, BPOM menemukan asam retinoat, hidrokinon, klobetasol propionat, mometason furoat, pewarna merah K10, dan merkuri. Hidrokinon adalah ejaan BPOM untuk hidrokuinon. Ringkasan risikonya menurut BPOM:

BahanStatus dalam kosmetikRisiko menurut BPOM
Merkuri dan senyawanyaTidak diizinkan (Lampiran V Peraturan BPOM 25/2025)Bintik-bintik hitam, iritasi kulit, hingga kerusakan ginjal
HidrokuinonDilarang BPOM dalam kosmetik, kecuali penggunaan khusus pada kuku artifisial oleh tenaga profesionalHiperpigmentasi, okronosis (bintik-bintik hitam), perubahan warna kornea dan kuku
Asam retinoatDitemukan BPOM sebagai bahan dilarang dalam kosmetikKulit kering, rasa terbakar, dan bisa mengganggu perkembangan janin
Klobetasol propionat dan mometason furoatDitemukan BPOM sebagai bahan berbahaya atau dilarang dalam kosmetikAtrofi (penipisan) kulit
Pewarna merah K10Ditemukan BPOM sebagai bahan berbahaya atau dilarang dalam kosmetikBisa memicu kanker dan mengganggu fungsi hati

Banyak yang mencari "krim yang mengandung hidrokuinon" karena bahan ini dikenal sebagai pencerah, padahal BPOM melarangnya dalam kosmetik. Di Indonesia, krim kosmetik yang mengandung hidrokuinon tidak boleh beredar karena bahan ini masuk Lampiran V Peraturan BPOM 25/2025. DermNet mencatat di Selandia Baru dan banyak negara lain hidrokuinon hanya tersedia dengan resep dokter, dan pemakaian berkadar tinggi beberapa kali sehari selama bertahun-tahun bisa menimbulkan okronosis eksogen. Jadi kalau seorang dokter menilai kamu butuh hidrokuinon untuk masalah pigmentasi, itu keputusan medis dengan resep dan pemantauan, bukan krim yang dibeli bebas.

Jangan samakan hidrokuinon yang dilarang BPOM dalam kosmetik dengan bahan pencerah lain yang punya nama mirip. Profil bahan seperti alpha arbutin, niacinamide, dan vitamin C, lengkap dengan sumbernya, bisa kamu temukan di indeks bahan aktif.

Terlanjur memakai krim yang dicurigai? Lakukan ini

Panik tidak membantu, tetapi menunda juga tidak. Langkah berikut dirangkum dari FDA dan BPOM:

  1. Hentikan pemakaian sekarang juga. FDA meminta pemakaian dihentikan segera bila produk diketahui mengandung merkuri.
  2. Cuci tangan dan bagian tubuh lain yang terkena produk sampai benar-benar bersih.
  3. Jangan berbagi handuk atau waslap, dan jauhkan produk dari anak kecil serta ibu hamil atau menyusui.
  4. Simpan kemasannya dalam plastik atau wadah yang tertutup rapat. FDA menyarankan cara ini sebelum produk dibuang, dan meminta kamu menanyakan cara pembuangan limbah berbahaya ke dinas lingkungan atau kebersihan setempat. Kemasan itu juga berguna sebagai bukti saat melapor.
  5. Periksakan diri ke tenaga kesehatan. FDA, mengutip ATSDR, mencantumkan tanda keracunan merkuri: mudah marah, pemalu berlebihan, gemetar, perubahan penglihatan atau pendengaran, gangguan ingatan, depresi, serta kebas dan kesemutan di tangan, kaki, atau sekitar mulut.
  6. Laporkan ke BPOM lewat Contact Center HALOBPOM 1-500-533, WhatsApp 0811-9181-533, email halobpom@pom.go.id, lapor.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen di Balai POM terdekat.

Diagram enam langkah bila terlanjur memakai krim yang dicurigai bermerkuri: hentikan, cuci kulit, jangan berbagi handuk, simpan kemasan, periksakan diri, dan laporkan ke BPOM
Urutan langkah bila kamu terlanjur memakai krim yang dicurigai mengandung merkuri. Diagram: Cantikmu, dirangkum dari FDA dan BPOM.

Untuk keluhan kulit, PERDOSKI menyarankan konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin bila muncul gatal berkepanjangan, ruam, perubahan warna kulit, atau benjolan yang tidak kunjung membaik. Kamu bisa mencari dokter di direktori PERDOSKI.

Flek hitam akibat merkuri dan mitos masker alami

Flek hitam akibat merkuri adalah salah satu efek yang paling sering dicari, dan BPOM memang mencatatnya. Di siaran pers triwulan I 2026, BPOM menyebut hidrokinon dan merkuri dapat menyebabkan perubahan warna kulit yang menetap dan iritasi.

Lalu bagaimana cara menghilangkan flek hitam akibat merkuri? Jawaban jujurnya: tidak ada cara rumahan yang bersumber untuk kasus ini. Perubahan warna kulit yang tidak membaik termasuk keluhan yang menurut PERDOSKI perlu diperiksa dokter spesialis kulit, dan dokter yang menentukan perawatannya setelah melihat kondisimu. Sambil menunggu jadwal periksa, ada dua hal aman yang bisa kamu lakukan:

  • Lindungi kulit dari matahari. Menurut AAD, perawatan noda gelap yang efektif dimulai dari sunscreen. Cara memilihnya ada di panduan sunscreen yang bagus.
  • Sederhanakan rutinitas. Kulit yang baru saja iritasi biasanya tidak butuh bahan aktif baru. Kenali tanda lapisan pelindung kulit yang terganggu di artikel skin barrier rusak.

Bagaimana dengan masker alami untuk menghilangkan merkuri di wajah? Redaksi Cantikmu tidak menemukan satu pun sumber kesehatan, baik BPOM, WHO, FDA, maupun jurnal yang kami baca, yang menyebut masker dari bahan dapur bisa mengeluarkan merkuri dari kulit. FDA dan WHO membahas paparan merkuri sebagai masalah keracunan, bukan masalah kecantikan. Menurut kami, menambahkan bahan baru ke kulit yang sedang bereaksi juga hanya menambah satu hal lagi yang perlu dijelaskan saat diperiksa dokter.

Memilih skincare tanpa merkuri

Kabar baiknya, menghindari skincare merkuri tidak butuh alat khusus. BPOM merangkumnya dalam Cek KLIK: cek Kemasan, Label, Izin edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli atau memakai kosmetik, khususnya yang dijual lewat platform digital. BPOM juga meminta konsumen memastikan produk tidak mencantumkan klaim yang berlebihan atau menyesatkan.

Setelah lolos Cek KLIK, pilih produk berdasarkan kebutuhan kulitmu, bukan janji warna kulit:

Terakhir, sebuah pandangan yang mungkin tidak populer di pasar pencerah. BPOM sendiri, lewat Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik, mengajak masyarakat menghilangkan obsesi bahwa cantik itu putih. Redaksi Cantikmu sepakat. Kulit yang sehat dan terawat adalah target yang realistis. Warna kulit yang berubah cepat karena krim tanpa izin edar justru alasan untuk berhenti dan mengecek, bukan untuk membeli lagi.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah skincare yang sudah terdaftar BPOM pasti bebas merkuri?

Nomor notifikasi menunjukkan produk sudah dievaluasi sebelum beredar, jadi risikonya jauh lebih kecil daripada produk tanpa izin edar. Namun BPOM tetap menemukan pelanggaran lewat pengawasan rutin dan mencabut izin edar produk yang terbukti mengandung bahan dilarang. Pastikan nama produk di situs Cek BPOM cocok dengan kemasanmu, dan sesekali lihat daftar temuan di siaran pers BPOM.

Bagaimana cara tahu krim mengandung merkuri tanpa uji laboratorium?

Tidak bisa dipastikan. Yang bisa kamu lakukan adalah menyaring risiko: hindari produk yang menjanjikan hasil instan, tidak berlabel lengkap, memuat kata mercury, mercuric, atau calomel di label, atau nomor notifikasinya tidak ditemukan di cekbpom.pom.go.id. Kepastian kandungan hanya didapat dari uji laboratorium, seperti yang dilakukan BPOM sebelum mengumumkan temuan.

Apakah ada masker alami untuk menghilangkan merkuri di wajah?

Redaksi Cantikmu tidak menemukan sumber kesehatan yang menyebut masker alami bisa mengeluarkan merkuri dari kulit. FDA dan WHO membahas paparan merkuri sebagai masalah keracunan, jadi langkah yang tepat adalah berhenti memakai produknya, mencuci kulit yang terkena, lalu memeriksakan diri ke dokter.

Apa yang sebaiknya dilakukan dengan flek hitam akibat merkuri?

Hentikan krimnya, lindungi kulit dari matahari dengan sunscreen, dan periksakan ke dokter spesialis kulit. BPOM mencatat merkuri bisa menimbulkan bintik hitam dan perubahan warna kulit yang menetap, jadi perawatannya perlu ditentukan dokter setelah pemeriksaan, bukan dengan krim pencerah lain yang isinya belum jelas.

Apakah krim yang mengandung hidrokuinon sama berbahayanya dengan krim merkuri?

Bahannya berbeda, tetapi keduanya sama-sama tidak diizinkan dalam kosmetik menurut Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025. Di banyak negara hidrokuinon hanya tersedia dengan resep dokter, dan BPOM mencatat pemakaiannya dalam kosmetik berpotensi memicu okronosis, yaitu perubahan warna kulit berupa bintik-bintik hitam.

Ke mana melaporkan kosmetik yang dicurigai mengandung merkuri?

Laporkan ke BPOM lewat Contact Center HALOBPOM 1-500-533, WhatsApp 0811-9181-533, email halobpom@pom.go.id, situs lapor.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen di Balai POM terdekat. Simpan kemasan produk dalam plastik tertutup rapat sebagai bukti.

Apakah bedak dan sabun juga bisa mengandung merkuri?

Data yang tersedia paling banyak membahas krim. Dari 787 produk pencerah dalam tinjauan di Environmental Health Perspectives, 70,1% berupa krim dan 19,3% sabun, dan FDA juga menyebut sabun kecantikan serta losion perlu diwaspadai. Bedak tidak disebut khusus, tetapi tetap kosmetik yang wajib punya izin edar, jadi cara memeriksanya sama dengan krim.

Apa arti huruf NA, NB, atau NC di depan nomor notifikasi kosmetik?

Menurut Balai Besar POM di Denpasar, nomor notifikasi kosmetik diawali NA (Asia), NB (Australia), NC (Eropa), ND (Afrika), atau NE (Amerika), lalu diikuti 11 digit angka. Huruf kedua menunjukkan benua asal produk, bukan tanda produk lokal atau impor. Cocokkan nomornya di cekbpom.pom.go.id beserta nama produknya.

Sumber

Klaim kesehatan kulit di artikel ini bersandar pada sumber dermatologi dan regulator berikut. Semua tautan dibuka di tab baru.

  1. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik (Lampiran V, bahan yang tidak diizinkan dalam kosmetik)Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui JDIH peraturan.go.id, diakses
  2. BPOM Temukan Kembali 14 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya dan Bahan Dilarang pada Triwulan II Tahun 2026Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  3. BPOM Tindak 11 Kosmetik Mengandung Bahan Berbahaya dan Bahan Dilarang pada Triwulan Pertama 2026Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  4. Penggalangan Komitmen Kosmetik Bebas MerkuriBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  5. Langkah BPOM Cegah Penggunaan Kosmetik Bermerkuri oleh Generasi MudaBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  6. Konsisten Berikan Edukasi, Badan POM Kembali Gelar Webinar STOP Kosmetika BermerkuriBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  7. Cantik Sehat tanpa Merkuri, STOP Kosmetika BerMerkuri!Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (pom.go.id), diakses
  8. Cara Cerdas Memilih KosmetikBalai Besar POM di Denpasar (denpasar.pom.go.id), diakses
  9. Tampil Cantik dengan Kosmetik yang AmanBalai POM di Tasikmalaya (tasikmalaya.pom.go.id), diakses
  10. Peraturan BPOM Nomor 21 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pengajuan Notifikasi Kosmetika (Pasal 45, masa berlaku notifikasi)Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (standar-otskk.pom.go.id), diakses
  11. Cek Produk BPOMBadan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (cekbpom.pom.go.id), diakses
  12. Mercury Poisoning Linked to Skin ProductsU.S. Food and Drug Administration (FDA) (fda.gov), diakses
  13. Mercury and health (fact sheet)World Health Organization (WHO) (who.int), diakses
  14. A Systematic Review of Mercury Exposures from Skin-Lightening Products (Environmental Health Perspectives, 2022)PubMed Central (PMC) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov), diakses
  15. HydroquinoneDermNet (dermnetnz.org), diakses
  16. How to fade dark spots in darker skin tonesAmerican Academy of Dermatology (AAD) (aad.org), diakses
  17. Pentingnya Menjaga Kesehatan Kulit untuk Mendukung Kualitas Hidup yang Lebih BaikPERDOSKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Kelamin dan Estetik Indonesia) (perdoski.id), diakses

Ditulis oleh

Tim Redaksi Cantikmu

Tim redaksi

Tim Redaksi Cantikmu adalah nama bersama untuk artikel skincare, makeup, rambut, dan kuku di blog ini. Draf disusun dengan bantuan AI, dan setiap klaim dicocokkan ke sumber yang ditautkan. Penerbit dan penanggung jawab situs: Ahmad Thariq Syauqi.

Lihat pedoman redaksi. Diperbarui .